“MER-C dan Pemerintah Indonesia sudah bisa memulai Pembangunan RS Indonesia di Gaza,” demikian pernyataan dr. Joserizal Jurnalis, SpOT pada saat konferensi pers jam 10 pagi ini di Kantor Sekretariat MER-C. Pernyataan ini dilontarkan karena setelah kembali dari Gaza pada hari Kamis lalu Jose dan Tim MER-C melihat mulai tersedianya bahan bangunan yang diperlukan untuk pembangunan dan izin yang sudah didapat dari Pemerintah Palestina di Gaza.
Didampingi oleh Ketua Divisi Humas MER-C, Ahyahudin Sodri, dan mantan Ketua MER-C Cabang Jerman, Zoesmar Sidi, Jose menjelaskan bahwa meskipun terjadi perubahan lokasi tanah waqaf dari yang setahun lalu MER-C terima, namun hal ini tidak menjadi masalah karena lokasi tanah yang diberikan saat ini juga strategis dan terletak di wilayah yang sama, yaitu di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Luas tanah waqaf yang diberikan juga sama, yaitu 1,5 hektar sehingga masih sesuai dengan disain RS yang sudah dirancang dari Jakarta.
“Rumah Sakit Indonesia yang akan kita bangun di Gaza adalah Rumah Sakit yang berfokus pada Traumatologi dan Rehabilitasi yang didisain khusus untuk wilayah perang. Rumah Sakit didisain sendiri oleh relawan dokter dan insinyur MER-C yang mungkin belum ada disain serupa baik di Indonesia maupun di luar negeri,” tambah Jose lebih lanjut.
Menurutnya disain RS yang semula berlantai dua akan mengalami beberapa penyesuaian disebabkan adanya masukan dan permintaan dari PM Palestina Ismail Haniya dan Menteri Kesehatan di Gaza setelah mereka melihat langsung detail gambar rancang bangun RS yang dibawa olehTim MER-C dari Jakarta.
Penyesuaian itu diantaranya adalah pembuatan basement dan struktur pondasi untuk 4 lantai. Keberadaan basement memang wajar karena sebagai wilayah yang mempunyai pengalaman panjang dengan perang dan blokade, RS tentu sangat membutuhkan ruang penyimpanan (storage) yang cukup luas untuk obat-obatan dan perlengkapan medis sehingga apabila terjadi perang RS tetap mempunyai stok obat dan perlengkapan yang cukup.
Ditanya mengenai kendala pembangunan RS ini, Jose menjelaskan bahwa adanya penyesuaian akan menyebabkan biaya pembangunan meningkat. Belum lagi harga pembangunan di Gaza yang lebih mahal 1,5 kali lipat.
Dalam kondisi normal, pembangunan RS bisa rampung dalam waktu satu tahun. Namun apabila tidak, maka pembangunan bisa membutuhkan waktu 2 tahun, 3 tahun bahkan lebih lama dari itu. Saat ini 4 relawan MER-C, yaitu dr. Arief Rachman, Ir. M. Baagil, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Abdillah Onim masih berada di Gaza untuk meneruskan program ini. Bahkan tiga relawan terakhir sudah siap untuk bertahan di Gaza dalam jangka waktu yang lama hingga RS ini selesai.








