Pukul 16:42 WIB atau sekitar pukul 11 waktu lokal datang pesan singkat dari dr. Arief Rachman, salah satu anggota Tim MER-C. “Alhamdulillah, kami sudah di Imigrasi Mesir. Selangkah lagi, insya Allah akan tiba di Jalur Gaza. Allahu Akbar.," demikian isi pesannya. Sebuah pesan singkat yang sangat menggembirakan.

Tim MER-C dan rombongan wartawan yang berjumlah 10 orang berangkat dari tempat menginap di Al Arish sejak pukul 09.35 pagi waktu setempat. Satu tempat yang mereka tuju adalah Perbatasan Rafah, satu-satunya pintu masuk via darat dari Mesir ke Jalur Gaza.
Menunggu di Perbatasan Rafah dan mengurus surat-surat di Kantor Imigrasi Mesir mengingatkan Tim MER-C pada pengalaman mereka di awal tahun 2009 lalu ketika mereka mencoba masuk ke Jalur Gaza untuk memberi pertolongan kepada para korban agresi Israel. Masa itu seperti baru saja kemarin berlalu.
Detik-detik menunggu izin masuk ke Gaza adalah detik-detik yang menegangkan bagi Tim MER-C. Selama lebih dari setahun mencoba mengurus izin masuk ke Gaza yang tak kunjung didapat, bahkan upaya menembus Gaza via laut pun harus kandas, Tim MER-C berharap kali ini bisa mendapat kesempatan untuk masuk ke wilayah okupasi Israel tersebut. Tak lain dan tak bukan untuk memulai Program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia, sebuah amanah dan janji yang belum tertunaikan.








