Bangkitnya negeri bencana, begitu tertulis di sampul buku petunjuk wisata Pulau Nias, dibawah tulisan itu terpampang potret seorang pria nias dengan baju adat warna hitam sedang melakukan hombo batu-lompat batu- tradisi khas masyarakat Nias Selatan. Tradisi yang menggambarkan sebuah semangat dan kemauan keras untuk mencapai keberhasilan. Buku petunjuk wisata yang dikeluarkan pemerintah daerah ini mulai banyak beredar di Nias, sebuah usaha untuk menginformasikan bahwa Nias sudah mulai berbenah menjadi lebih baik. Kepulauan, yang menjadi bagian dari Provinsi Sumatera Utara dan  anak-anak pulaunya tersebar di Samudra Indonesia memang akrab dengan bencana, bahkan sampai saat ini gempa-gempa kecil masih sering menggetarkan permukaan pulau dan menimbulkan bekas retak-retak pada tanah.
Kali ini Program Mobile Clinic Klinik BNI dan MER-C di Medan mengunjungi Pulau Nias. Berangkat mulai tanggal 10 Oktober sampai 16 Oktober 2008. Jalan darat dari Nias ke Sibolga, kota penyeberangan ke Nias, ditempuh selama 10 jam dari Medan, sedangkan menyeberang ke Pulau Nias dengan menumpang kapal motor ferry selama 10 jam lagi. Tim mobile clinic yang terdiri atas empat orang personil, dua dokter, satu perawat dan satu farmasist, pertama sekali mengunjungi dulu dokter PTT MER-C yang bertugas di Klinik BNI dan MER-C di Nias Utara, yaitu dr. Roni Batara, bertempat di Pesantren Hidayatullah, Nias. Selain untuk silaturahmi, kunjungan ini juga bertujuan melengkapi sebagian obat-obatan mobile clinic yang didapat dari Klinik BNI dan MER-C di Nias.
Setelah menyiapkan obat-obatan, Tim mobile clinic langsung menuju Nias Tengah, 110 km dari Nias Utara, memakan waktu dua jam dengan mobil, sesampainya di daerah Togizita, Nias Tengah, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah bukit Dao-dao Satua, tempat tertinggi di Nias, yang ditempuh selama 5 jam menembus hutan dan dipandu oleh penduduk setempat. Tim kemudian menginap di rumah-rumah penduduk di Dusun Hilituwese, tempat bakti kemanusiaan akan dilakukan.
Pengobatan umum dilakukan dua sesi, pertama pada tanggal 14 Oktober 2008 malam dan pada pagi hari tanggal 15 Oktober 2008, tercatat 102 pasien yang mengikuti pengobatan umum, salah satu rumah penduduk dijadikan tempat pemeriksaan.
“Kami tidak menyangka bapak-bapak mau datang ke tempat kami, sudah lama kami tidak pernah menjumpai ina doto (ibu dokter) dan ama doto (bapak dokter),†demikian ungkap Ataroa, salah seorang pemuda setempat.
Daerah hilituwese dan sekitarnya dijadikan tempat mobile clinic karena sudah lama daerah terpencil ini tidak mendapat pelayanan kesehatan. Begitu banyak bantuan kemanusiaan yang terkonsentrasi di kota dan pelabuhan, namun desa-desa di pegunungan dan bukit-bukit di Nias tidak mendapat bantuan karena medanindependent dan netral untuk orang-orang yang paling membutuhkan dan menerapkan konsep Islam sebagai Rahmatan lil Alamin, maka MER-C memutuskan untuk masuk ke daerah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen Katolik ini. yang sulit dan jauh. Sesuai dengan prinsip MER-C yang begerak dengan
Terdapat 48 orang anak dan balita yang mendapat pengobatan, dan semuanya belum pernah mendapatkan imunisasi, baik BCG, apalagi hepatitis B dan Polio, karena tidak ada layanan posyandu yang sampai ke lokasi, dan penduduk juga tidak pernah dapat informasi tentang kapan layanan posyandu terdekat dilaksanakan, pemahaman penduduk terhadap pentingnya imunisasi juga masih rendah.
Data lain yang lebih mencengangkan adalah hampir semua kelahiran di daerah ini persalinannya tidak pernah dibantu oleh bidan atau dukun beranak terlatih, persalinan dilakukan sendiri dibantu oleh keluarga dengan cara-cara tradisional, tidak heran angka kematian ibu dan balita tinggi, bahkan seorang ibu rumah tangga mengaku bahwa dari 16 orang anaknya, hanya tersisa delapan karena yang lain meninggal saat masih balita.
Kendala lain yang dihadapi Tim mobile clinic Klinik BNI dan MER-C adalah bahasa, jumlah penduduk yang lancar bahasa Indonesia bisa dihitung dengan jari, mereka biasanya pemuda yang pernah merantau ke luar nias, atau sudah sekolah sampai SMA, sebagian besar sisanya tidak mengerti bahasa Indonesia. Dari 29 ibu rumah tangga yang berobat, tak seorangpun yang mampu berbahasa Indonesia. Dan, dari 32 orang anak usia 7 sampai 17 tahun yang bersekolah, hanya tiga orang yang cukup lancar berbahasa Indonesia, sisanya tidak bisa atau hanya bisa berbicara terpatah-patah.
Selain mengadakan pengobatan umum, Tim mobile clinic juga melakukan pemeriksaan darah tepi untuk malaria dan melakukan analisis kondisi masyarakat secara lebih objektif dengan metode Partisipatory Rural Appraisal (PRA), yang meliputi survai kesehatan sederhana, focus group discussion, dan mapping potensi desa.
“Program Mobile clinic seperti ini sebenarnya punya potensi besar, tidak hanya untuk memberikan pengobatan, tapi sifatnya yang mobile dan mampu menjangkau daerah-daerah terpencil memungkinkan masyarakat yang paling marginal bisa terlayani. Kondisi masyarakat setempat juga bisa tersampaikan kepada khalayak, karenanya selain pengobatan, kita melakukan pengkajian kondisi masyarakat sehingga mampu melihat masalah kesehatan di suatu daerah lebih komprehensif,†demikian penjelasan Marissa Noriti,S.Farm., koordinator kegiatan mobile clinic’. Ya’ahowu!. ini






