MER-C

 
 
 
 

TPM - MER-C Terus Kejar Pertanggung Jawaban Israel Terkait Insiden Mavi Marmara

Email Print

Siaran Pers

 

Walaupun mendapat banyak hambatan dalam meminta pertanggung jawaban Israel atas tindakan biadabnya menyerang, menembak, menyiksa dan melecehkan Relawan-relawan Warga Negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Freedom Flotilla di kapal Mavi Marmara. Namun TPM – MER-C rupanya terus ngotot untuk meminta pertanggung jawaban Israel terhadap perbuatannya. Hal ini dibuktikan dengan akan berangkatnya Delegasi TPM yang dipimpin oleh Mahendradatta dan Adnan Wirawan ke beberapa Markas Organisasi Internasional seperti International Criminal Court / Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Internasional Court of Justice / Mahkamah Internasional di Den Haag – Belanda, serta utamanya adalah menuju Markas Dewan Hak Asasi Manusia PBB / United Nation Human Right Council (UN-HRC) di Jenewa.

 

Delegasi TPM yang akan berangkat pada 17 September 2010 tersebut disamping sudah mempersiapkan Tuntutan Formal (Formal Complaint) mewakili Relawan MER-C yang menjadi Korban insiden Freedom Flotila juga akan membawa serta berbagai barang bukti antara lain baju berdarah, visum para korban, rekaman kejadian, foto peluru yang diambil dari tubuh korban Surya Fachrizal, dan barang-barang yang dirusak Tentara Israel. Keseluruhan bahan tersebut akan diperlihatkan kepada beberapa Organisasi Internasional dan pada akhirnya diserahkan kepada Dewan HAM PBB (UN-HRC).

 

Hal yang menggembirakan adalah Dewan HAM telah mengagendakan Pembahasan Insiden Freedom Flotilla dalam Sidang Umumnya yang akan digelar akhir September 2010 ini dan Delegasi TPM telah diperkenankan memasukkan laporannya sebagai salah satu referensi pembahasan.

 

Bila dipertanyakan apa saja hambatan yang dialami TPM – MER-C melakukan perlawanan hukum terhadap Israel adalah disamping Israel merupakan Negara yang nyaris tak tersentuh dan selalu berani menginjak-injak hukum Internasional juga memiliki jaringan luas yang mampu mempengaruhi politik suatu negara. Disamping itu bagi TPM, penangkapan dan penahanan Ustadz Abubakar Ba’asyir secara mendadak tanpa alasan hukum yang jelas juga merupakan bagian dari hambatan dan gangguan untuk TPM melakukan perlawanan hukum terhadap Israel dalam kasus Freedom Flotilla ini.

 

Insiden Penyerangan Israel terhadap Misi Kemanusiaan Freedom Flotilla yang juga diikuti relawan Indonesia terjadi pada tanggal 31 Mei 2010 mengakibatkan kematian 9 orang dan melukai puluhan orang antara lain Relawan Indonesia Surya Fachrizal yang ditembak dadanya. Korban dari pihak Indonesia inilah yang diperjuangkan oleh TPM sebagai juga sebuah tauladan nyata bagi Pemerintah RI untuk berani membela Warga Negaranya dan mempertahankan harga diri Bangsa Indonesia.

 

Jakarta, 16 september 2010

TIM PENGACARA MUSLIM PUSAT

 

 
 
 
 

JALAN JIHAD SANG DOKTER". Kisah perjalanan dr. Joserizal & Tim MER-C ke berbagai wilayah perang, konflik dan bencana baik di dalam maupun di luar negeri hingga lika-liku Pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza.
Dapatkan di Toko Buku atau MER-C
Rp. 58.500,-