Tak jarang SDM klinik sosial BNI dan MER-C juga harus melakukan home visit ke rumah pasien. Seperti yang terjadi ketika Ketua Pengawas Klinik seluruh Indonesia, Islamiyah Samaun sedang melakukan supervisi di klinik sosial di Mataram, NTB, tanggal 23 – 25 Juli 2010 lalu.
Saat itu, seorang ibu mendatangi klinik BNI dan MER-C di Mataram. Ibu tersebut meminta tolong kepada tenaga medis di klinik untuk bisa datang ke tempat tetangganya. Si ibu merasa kasihan melihat dua orang tetangganya yang katanya sudah beberapa minggu ini sakit dan tidak bisa berjalan.
Mendengarkan penjelasan si ibu, dokter dan perawat klinik segera bergegas. Begitupun Ketua Pengawas Klinik yang sedang menilai kondisi klinik juga turut bergegas mengikuti langkah si ibu sebagai penunjuk jalan.
“Kondisi rumah pasien yang pertama sangat memprihatinkan, hanya berukuran sekitar 2 x 1 meter” tutur Islamiyah. “Rumah tersebut berlantai tanah dan atap rumah dari sabuk kelapa. Begitu masuk rumah udara terasa lembab,” lanjut Islamiyah.
Menurut Islamiyah, dengan penerangan seadanya, dokter klinik melakukan pemeriksaan terhadap pasien, seorang laki-laki, berusia sekitar 55 tahun. Pasien didiagnosa menderita stroke ringan dan memang sudah 9 minggu tidak bisa berjalan. Dokter klinik kemudian memberi obat dan memberi informasi secukupnya kepada pasien dan keluarganya.
Pasien kedua, kondisi rumah tidak lebih baik dari yang pertama, tetap memprihatinkan. Pasien kedua, seorang wanita yang berusia sudah cukup lanjut. Dokter klinik mendiagnosa pasien ini menderita Parkinson.
Melihat langsung kondisi rumah dan ekonomi kedua pasien, Tim Klinik memutuskan untuk membebaskan biaya pengobatan mereka. Islamiyah sebagai Ketua Pengawas Klinik pun memutuskan agar kedua pasien ini menjadi pasien binaan klinik. Tim Klinik secara berkala diarahkan untuk melakukan home visite ke rumah kedua pasien hingga kondisi mereka membaik.


