Sabtu (23/04) adalah hari yang tidak akan dilupakan oleh seluruh warga Sape. Hari itu sekitar jam 9 pagi, banjir bandang tiba-tiba melanda daerah ini. Banjir disebabkan oleh luapan sungai akibat hujan deras yang turun terus menerus di wilayah Wawo, Sape dan sekitarnya. Hantaman banjir ini mengakibatkan banyak kerusakan dan meluluh lantakan persawahan, perumahan, sekolah, tempat ibadah, jalan raya dan tempat-tempat lainnya yang ia lalui.
MER-C sebagai salah satu lembaga kemanusiaan dan kegawat daruratan medis segera menurunkan Tim Medisnya ke lokasi bencana. Tim medis terdiri dari 4 ornag relawan, yaitu dr. Arif Budiman (Ketua Tim), Yan Aditya Kusuma, Bq. Elin Amanwati, dan Yudriawan Annas.
Begitu menginjakkan kaki di daerah Sape, Tim langsung menyaksikan pemandangan yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data yang kami peroleh, banjir bandang telah menyebabkan 2 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Banjir juga menghanyutkan puluhan rumah dan merendam ribuan rumah lainnya. Tak hanya itu, sebagian besar lahan pertanian penduduk juga mengalami kerusakan akibat arus banjir yang sangat kuat. Kerugian yang dialami oleh penduduk desa yang yang dilanda banjir, yaitu desa Rai’Oi, desa Na’e, desa Sangia, desa Bugis, desa Rasa Bo’u dan desa Naru diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Beberapa hari setelah bencana masalah kesehatan pun mulai muncul dan menyerang penduduk, seperti gatal-gatal di sekujur tubuh, faringitis, saluran pernapasan (ISPA), diare dll.
Tim Medis MER-C yang dibantu oleh Komunitas Jalan Setapak (KJS) Bima mengadakan pengobatan massal bagi para korban banjir pada hari Sabtu (30/04) di 2 titik lokasi bencana terparah yaitu desa Bugis dan desa Na’e, Kecamatan Sape. Pengobatan pada titik pertama berlangsung mulai jam 09.00-12.00 Wita dan pengobatan di titik kedua mulai jam 16.00-18.30 Wita. Kegiatan ini mendapat respon sangat baik dari masyarakat yang dilihat dari animo dan antusiasme masyarakat yang datang berobat di ke posko pengobatan.
Jumlah korban banjir yang berobat mencapai lebih dari 300 orang, dengan karakteristik penyakit terbanyak adalah gatal dan luka-luka. “Uluran Kepedulian Kita Adalah Bantuan Berharga Bagi Mereka.” (Tim MER-C Cab. Mataram)


