MER-C

 
 
 
 
Articles

Pemuda Gaza Korban Bom Fosfor Butuh Bantuan Cuci Darah

Email Print

“Tiga tahun yang lalu terkena bom fosfor. Sampai saat ini lukanya masih seperti baru. Tidak bisa keluar rumah atau terkena matahari langsung, jika tidak maka daging di tubuhnya yang terkena bom fosfor akan meleleh seperti terkena air panas. Ia harus menjalani cuci darah secara rutin seminggu 3 kali. Itulah kondisi yang diderita Muhamed Arif, pemuda Gaza usia 27 tahun salah satu korban bom fosfor Israel,” demikian ungkap Abdillah Onim, relawan sekaligus Ketua MER-C Cabang Gaza dalam email elektronik.

 

“Muhamed terkena bom fosfor saat menghadiri pemakaman korban yang tewas akibat serangan Israel. Tiba-tiba zionis Israel menjatuhan bom fosfor persis di kerumunan massa yang sedang hadir di pemakaman tersebut,” lanjut Abdillah

 

Hari itu, Sabtu (10/09), jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang waktu Gaza. Sudah setengah hari Abdillah dan relawan Indonesia MER-C lainnya melakukan aktifitas pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza utara.

 

Matahari terik yang menyinari kota Gaza benar-benar membuat kerongkongan terasa kering. Abdillah pun bergegas menuju ke salah satu warung yang tidak jauh dari lokasi pembangunan RS Indonesia, yaitu ke kota Jabalia untuk membeli minuman (red: air putih).

 

Kota Jabalia merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk terpadat di Gaza, terletak di Gaza sebelah utara dan merupakan kota terdekat dari lokasi RS Indonesia. Pada agresi besar-besaran tahun 2009 lalu, banyak korban berjatuhan di wilayah ini akibat serangan Israel.

 

Usai membeli minuman, ketika menuju kendaraan untuk kembali ke lokasi pembangunan RS Indonesia, seorang pemuda berperawakan tinggi, kekar, berkulit putih, dengan wajah santun menghampiri Abdillah. Pemuda tersebut memberikan salam dan mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri.

 

“Nama saya Muhamed Arif, usia 27 tahun,” katanya kepada Abdillah.

 

Usai bersalaman, mendadak perhatian Abdillah tertuju pada sekujur tangan, leher dan juga sebagian wajah Muhamed yang terlihat bercak-bercak putih, kulit mengelupas dan terlihat daging yang berwarna merah. “La haula walaquwwata illa billah, ini pasti salah satu dari korban fosfor,” ucap Abdillah dalam hati melihat kondisi Muhammad.

 

Perbincangan singkat pun di mulai dengan lontaran pertanyaan bernada penasaran dari Abdillah, “Ma bika ya akhi? (Ada apa gerangan dengan anda wahai saudaraku?).”

 

Dengan serentak Muhamed mengulurkan tangan dan menunjukkan seluruh kaki dan leher sambil menjelaskan, “Akhi Andonesy, saya terkena bom fosfor zionis Israel pada tahun 2009. Sudah beberapa bulan ini saya dianjurkan oleh dokter RS Asy-Syifa agar menjalani cuci darah 3 kali seminggu. Tapi karena terkendala dana, saya hanya bisa menjalani cuci darah hanya satu kali seminggu. Itu pun tergantung ada atau tidak dananya.”

 

“Minggu ini saya juga harus cuci darah 3 kali, tapi sampai detik ini saya belum bsia cuci darah karena tidak mempunyai dana,” lanjut pemuda itu dengan mata berkaca-kaca dan bibir gemetar.

 

Sambil menarik nafas panjang dan menepuk bahu Muhammad Abdillah mengatakan, “Yasfiyallah ya akhi, Allah sahal alaik, sabrun jamil. (Allah menyembuhkanmu, memudahkan urusanmu, sabar itu indah).

 

Tak lupa Abdillah meminta nomor telepon Muhamed. “Saya akan coba membantu semampu saya dan menyampaikan derita yang kamu alami kepada saudara-saudara muslim di Indonesia. Mohon doakan saya,” ucap Abdillah sebelum berpamitan. Abdillah harus segera kembali ke lokasi RS Indonesia karena para relawan yang lain pasti menunggunya di sana.

 

Abdillah pun menceritakan pertemuan singkat dengan Muhammad kepada relawan Indonesia yang lain. Mendengar derita Muhamed, para relawan sepakat menyisihkan sebagian dana pribadi mereka untuk dapat membantu Muhammad melakukan cuci darah minggu ini. Menurut Muhamed biaya cuci darah sekitar 200 sheqel (atau Rp 500.000,-).

 

Alhamdulillah dana yang terkumpul sebanyak 300 sheqel. Walaupun tidak seberapa, mudah-mudahan bantuan ini bisa sedikit meringankan penderitaan saudara kami Muhammad. Malamnya, Abdillah dan para relawan MER-C Indonesia mendatangi rumah Muhamed untuk menyerahkan bantuan ini.

 

“Saya sengaja menulis tentang derita dari sebagian saudara-saudara kita di Gaza, semoga ada yang dari saudara-saudara muslim di tanah air yang membaca dan tergerak hatinya untuk meringankan derita saudara kita ini,” harap Abdillah.

 

 

Gaza, 10 september 2011

Abdilah onim

Ketua MER-C cab. Gaza