MER-C

 
 
 
 

Gerakan Global Menuju Jerusalem – 30 Maret 2012

Email Print

Sejak pendudukan Zionis terhadap 78 persen Tanah Palestina pada 1948, menyusul pendudukan Yerusalem dan tanah Palestina tersisa pada 1967, Yerusalem terus mengalami upaya Zionisasi sementara Palestina menderita kolonisasi tanpa henti.

Semua kejahatan melawan kemanusiaan ini terus berlangsung mulus berkat perlindungan politik setiap pemerintahan Amerika Serikat lewat vetonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tujuan Zionis adalah memaksa penduduk Palestina keluar dari Yerusalem dan seluruh Tanah Palestina. Segala cara digunakan, dari aksi terorisme negara, blokade ekonomi, hukum apartheid, hingga pembersihan etnis.

Kota suci Yerusalem secara semena-mena disebut para pemimpin Zionis sebagai "ibukota abadi Israel". Mereka menyatakan bahwa Yerusalem tak bisa dinegosiasikan.

Pernyataan di atas, berikut segala aksi Zionis, mutlak bertentangan dengan semua resolusi PBB terkait Yerusalem dan melawan prinsip hukum internasional.

Yerusalem sesungguhnya warisan universal umat manusia, dan sangat dimuliakan oleh pengikut semua agama monoteistik. Kota bersejarah nan luar biasa ini juga dihormati penduduk dunia karena mengandung warisan kemanusiaan.

Yerusalem selalu menjadi mercusuar emansipasi dan harapan rakyat tertindas. Ia melambangkan persatuan dan persamaan semua ciptaan Tuhan. Ia mengandung pesan cinta dan kasih sayang. Jutaan orang yang mencintai Yerusalem peduli akan keselamatan dan kesucian Masjid Al-Aqsha, Masjid Kubah Batu, Gereja Makam Suci dan tempat suci lainnya yang terancam rencana Zionis. Mereka hendak mengubah dan membongkar struktur masyarakat Yerusalem, melenyapkan identitas Arab, dan mengubah karakter kota.

Yerusalem dan seluruh Palestina harus dibebaskan, ditebus, dan dipulihkan sebagai tanah kebebasan, tempat masyarakat dari semua latar belakang agama dan budaya hidup berdampingan secara damai.

Sebagai bagian dari gerakan ini dan atas undangan rakyat Palestina, kami memutuskan untuk menyelenggarakan Global March to Jerusalem (GMJ). Gerakan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman nyata bagi Yerusalem dan seluruh Palestina oleh tangan Zionis.

Pada 30 Maret 2012, dari semua benua, kami akan berkumpul di sepanjang perbatasan Palestina dengan Yordania, Mesir, Suriah, dan Lebanon. Delegasi dari setiap negara di dunia akan bergabung bersama kami dalam sebuah pawai damai menuju Palestina.

Oleh karena itu, kami memohon semua orang dengan hati nurani untuk bergabung bersama kami.

Tertanda,

Komite Internasional Global March to Jerusalem

Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina

Email Print


Latar Belakang

 

Sabtu/27 Desember 2008, Israel memulai gempuran dasyat pertamanya ke Jalur Gaza. Kamis/1 Januari 2009, Tim Medis MER-C bersama dengan tim Pemerintah RI berangkat ke Gaza guna menyalurkan bantuan kepada para korban . Akibat agresi Israel selama 22 hari, jumlah syahid tercatat 1.366 orang yang terdiri dari 437 anak-anak, 110 wanita dan 123 lansia. Sementara jumlah cidera tercatat 5.650 orang (Data dari Kementrian Kesehatan Palestina di Gaza)
 

Setelah menunggu selama dua pekan di perbatasan, pada tanggal 17 Januari 2009 Tim MER-C baru berhasil memasuki Jalur Gaza. Ketika itu, wilayah Gaza masih dalam keadaan puncak serangan. Pada fase emergency setelah Israel memuntahkan rudal dan bomnya ke wilayah Gaza Palestina, selain mengirimkan relawan medis sebagai Tim Bedah untuk membantu para korban agresi, MER-C juga menyalurkan amanah dana dari masyarakat Indonesia berupa bantuan obat-obatan dan mobil ambulans.

 

Selama sepekan berada di RS Asy Syifa, Gaza City, Tim MER-C masih banyak menemui korban-korban agresi dengan luka (trauma) berat bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya akibat bom dan rudal Israel yang membabi-buta. Tim MER-C juga melihat bahwa RS di Gaza kewalahan menampung korban agresi yang begitu banyak, terlebih lagi wilayah gaza utara yang berbatasan langsung dengan Israel. Sebagai sebuah wilayah perang, Gaza juga hanya memiliki 1 RS Rehabilitasi, yang tidak luput dari serangan Israel.  



MER-C Tanda Tangani MOU Pembangunan RS Indonesia dengan Menkes palestina di Gaza

 

Jum’at/23 januari 2009, melihat kebutuhan akan sarana kesehatan khususnya yang berfokus pada Trauma dan Rehabilitasi serta jumlah donasi dari masyarakat Indonesia yang cukup besar kala itu, maka Tim MER-C didampingi sejumlah wartawan dari Indonesia bertemu dengan Menkesa palestina di Gaza, dr. Bassim Naim. Pada kesempatan yang langka tersebut, dimanfaatkan Tim MER-C untuk menyampaikan rencana pembangunan RS Indonesia (RSI) di Jalur gaza.


 

Rencana ini disambut sangat baik. Atas nama rakyat Indonesia yang diwakili oleh dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT dan atas nama rakyat Gaza yang diwakili oleh dr. Bassim Naim melakukan penandatanganan MOU Pembangunan RSI di Gaza. Penandatanganan ini turut disaksikan oleh dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C), Drs. HM. Mursalin (Forum Umat Islam), Ir. Hanibal WY Wijayanta (Jurnalis ANTV), Andi Jauhari (Jurnalis ANTARA) dan para ulama Gaza.  

Keberadaan RSI ini diharapkan bias membantu menangani pasien-pasien yang mengalami trauma fisik dan merehabilitasi mereka sehingga mereka bisa mandiri dan beraktifitas kembali.  

 


Mengapa Dinamakan RS Indonesia?

Satu, Karena seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia.

 Dua, Rumah sakit ini kita harapkan bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.

 Tiga, dengan nama dan keberadaan RS ini kita ingin memberi pesan bahwa di tanah Palestina ada aset dan sumbangan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.  


Lika-liku Program RS Indonesia

 

2 Februari 2009 :

Pasca penandatanganan MOU, Tim I MER-C kembali ke tanah air dan menyampaikan rencana Pembangunan RSI kepada Menkes RS saat itu, DR. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP(K).

 

 

Januari – Mei 2009 :

MER-C menugaskan Tim ke – II untuk menindaklanjuti MOU RSI. Selama 4 bulan melakukan assessment dan koordinasi dengan berbagai pihak di Gaza, 3 Mei 2009, MER-C mendapat surat tanah wakaf untuk RSI dari PM Palestina Ismail haniya.

 

 

Mei 2010 :

Selama 1 tahun tak kunjung mendapat izin masuk Gaza, MER-C bersama aktifis dari berbagai Negara mengikuti Misi Freedom Flotilla (Armada Pembebasan Gaza) dengan menaiki kapal milik organisasi IHH Turki bernama “Mavi Marmara”.

31 Mei 2010, terjadi insiden penyerangan kapal “Mavi Marmara” oleh tentara Israel yang menyebabkan 9 aktifis meninggal dunia dan puluhan luka-luka. Aklitis lain, termasuk Tim MER-C ditangkap dan ditahan oleh Israel. Harapan menginjak kaki di tanah Gaza untuk melanjutkan program RSI pun pupus.

 

Juli 2010 :

Tekanan dunia Internasional yang besar pasca insiden penyerangan “Mavi Marmara” membuat pintu perbatasan menuju Gaza menjadi “agak longgar”. Juli 2010, Tim MER-C dengan sejumlah media akhirnya bias kembali masuk ke Jalur Gaza.

 

 

 

Juli 2010 :

Tim MER-C yang terdiri dari dokter dan insinyur menjelaskan disain RSI kepada Perdana Menteri Palestina (Ismail Haniyah) dan Menkes Palestina di Gaza (dr. Bassim Naim).
 

 

 

Agustus 2010 :

Cabang MER-C di Gaza dibuka dan mendapat pengakuan resmi dari Pemerintah setempat. Pengakuan ini diberikan bertepatan dengan acara peringatan HUT RI ke-65 yang merupakan HUT RI pertama kalinya diselenggarakan di Jalur gaza.  

 

 

8 – 10 Agustus 2010 :

Tim MER-C melakukan Soil Investigation Test terhadapat tanah wakaf RSI bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Islam gaza. Tes ini kemudian diikuti dengan survey lahan lebih lanjut untuk mendapatkan data kontur topografi tanah.

 

 

 

 

9 Desember 2010 – 6 Januari 2011 :

Upaya untuk menembus dan membuka blockade Gaza terus berlanjut. Kini masyarakat Asia yang tergabung dalam “Asian People’s Solidarity for Palestine” melakukan konvoi “Asian Solidary Caravan for Gaza” pada 2 Des 2010 – 6 Jan 2011 yang diikuti 160 aktifis dari 13 negara di Asia. Indonesia turut mengirimkan delegasinya yang terdiri dari 11 aktifis dan 2 jurnalis yang berasal dari MER-C, Voice of Palestine (VOP), Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) dan Aqsa Working Group (AWG).

Sempat terkendala izin untuk masuk ke Gaza, akhirnya konvoi ini berhasil mencapai Gaza pada 2 Januari 2011. Dua relawan MER-C di Gaza, yaitu Abdillah Onim dan Ir. Nur Ikhwan Abadi turut menyambut kedatangan konvoi ini.

Sebanyak 5 relawan dari AWG/Pesantren Al Fatah, kemudian memutuskan untuk menetap di Gaza guna membantu program pembangunan RSI di jalur Gaza. Kesempatan memasuki Gaza juga dimanfaatkan oleh dua relawan HASI untuk melakukan survey lebih lanjut mengenai Unit bank Darah (Blood Bank Unit) yang akan melengkapi RSI.

 

 

Dengan bertambahnya 5 relawan, jumlah keseluruhan relawan Indonesia yang bertugas di Gaza untuk mengawal program Pembangunan RSI menjadi 7 orang, yaitu : Abdillah Onim, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad Fauzi, Abdurrahman, Darusman dan Muhammad Husein.

 

 

 

Februari – April 2011 :

Setelah data tanah lengkap dan seluruh disain RSI disetujui oleh Kemenkes Gaza, maka sesuai dengan prosedur dari Pemerintahan Palestina di Gaza, pada tanggal 2-3 Februari 2011 MER-C memasang iklan pengumuman tender pembangunan tahap 1 (Satu) untuk struktur RSI di Koran lokal, Felesteen. Lima kontraktor papan atas Gaza terpilih untuk mengikuti tender ini.

 

 

 

20 April – 20 Mei 2011 :

Tim Konstruksi MER-C yang diketuai oleh Ir. Faried Thalib berangkat ke Gaza untuk menentukan pemenang tender dan melakukan kontak dengan pemenang tender. Namun hingga 1 (satu) bulan di Mesir, Tim MER-C tidak kunjung mendapat izin masuk ke Gaza. Proses penentuan pemenang tender pun dilakukan melalui telekonferens antara Tim MER-C di Mesir, Tim MER-C di Gaza dan para kontraktor di Gaza.

28 April 2011, kontraktor First Company ditetapkan sebagai pemenang tender pembangunan tahap 1 (satu) untuk struktur RSI.

 

Pembangunan RSI pun Dimulai
 

 

 

14 Mei 2011 :

Pembangunan struktur RSI dimulai. Pembangunan struktur akan memakan waktu 9 bulan, yang kemudian akan diikuti dengan pembangunan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).

Dalam program ini, MER-C turut di bantu oleh Pesantren Al fatah Cileungsi yang menyediakan SDM-SDM relawan yang memiliki keahlian di bidang konstruksi.

Sementara itu, Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) juga akan melengkapi bangunan RSI dengan Unit Bank Darah (Blood Bank Unit)  

 

                                               

12 – 24 November 2011, Tiga relawan insinyur MER-C yang di pimpin oleh Ir. Faried Thalib (Ketua Divisi Konstruksi) berangkat ke Gaza untuk melakukan supervise langsung pembangunan struktur RSi. Tim ini sekaligus melakukan survey ketersediaan material untuk pembangunan tahap 2, yaitu Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).

28 April 2012 : Alhamdulillah, atas doa dan dukungan rakyat Indonesia, pembangunan tahap 1 (struktur) RSi yang terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement ditambah 1 lantai area tengah (middle area) telah selesai 100%.

 

Pembangunan RSI Tahap 2

Divisi Konstruksi MER-C membagi proses pembangunan RS Indonesia di Gaza menjadi 2 tahap. Tahap pertama berupa pembangunan struktur, Alhamdulillah sudah selesai. Selanjutnya akan dilakukan pembangunan tahap kedua berupa pekerjaan arsitektur dan mekanikal elektrikal (ME). Berbeda dengan pekerjaan tahap pertama yang dilakukan oleh kontraktor lokal, pekerjaan tahap kedua seluruhnya akan dilakukan oleh putra-putra bangsa Indonesia, baik insinyur maupun pekerjanya.

 

20 juli 2012 : MER-C memberangkatkan 4 relawan teknisnya ke Gaza. Mereka akan bergabung dengan 3 relawan yang masih bertugas di Gaza, bertugas untuk mempersiapkan kedatangan tim teknis yang lebih besar untuk melakukan pembangunan tahap 2 RS Indonesia.

 

21 Oktober 2012 :  MER-C memberangkatkan Tim relawan terbesar ke Gazayang berjumlah 3orang. Tim terdiri dari 27 orang relawan (3 Insinyur, 3 Dokter, 21 tenaga teknis) dan 6 jurnalis. Sebanyak 21 relawan yang merupakan tenaga teknis akan menetap di Gaza dan bergabung dengan 7 relawan yang telah ada sebelumnya, sehingga jumlah seluruh relawan Indonesia di Gaza menjadi 28 orang. Mereka akan bertugas di Gaza hingga pembangunan tahap 2 RS Indonesia selesai.

 

 

1 November 2012 : Pembangunan tahap 2 RS Indonesia resmi dimulai dengan pimpinan proyek Ir. Nur Ikhwan Abadi. Pembangunan tahap ke-2 diperkirakan akan memakan waktu selama 1,5 tahun.

 

 

14 – 21 November 2012 :  Sejak kedatangan Tim relawan MER-C akhir Oktober lalu, para relawan harus mulai terbiasa dengan suara bom dan rudal Israel. Sebagai wilayah okupasi, serangan bom dan rudal adalah hal biasa, walaupun tidak bersifat massive. Begitupun dengan drone (pesawat tanpa awak) dan pesawat jet F-16 Israel yang selalu berputar-putar di langit Gaza.

 

 Rabu (14/11), serangan Israel telah menyebabkan Pimpinan Militer Hamas, Ahmad Al Jabari syahid. Hal inilah yang kemudian memicu kondisi Jalur Gaza menjadi memanas. Seiring serangan Israel yang semakin membabi buta ke Jalur Gaza, seluruh relawan atas instruksi MER-C Pusat Jakarta mengamankan diri di ruang basement RS Indonesia. Selama 8 hari serangan berlangsung, Alhamdulillah semua relawan dalam keadaan selamat dan tetap mengerjakan pembangunan tahap 2 di ruang basement RS. Pekerjaan sempat terhenti pada hari pertama serangan saja, Bangunan RS Indonesia juga tidak mengalami kerusakan berarti meskipun beberapakali bom dan rudal Israel jatuh tak jauh dari lokasi RS Indonesia. Hanya ada beberapa kaca RS yang pecah akibat getaran bom dan rudal tersebut.

 

Fakta Seputar RS Indonesia

 

Tanah Wakaf

Tanah RS Indonesia seluas 16.261 m2 merupakan wakaf dari pemerintah Palestina di Gaza

Dana sumbangan dari Rakyat Indonesia :

Dana pembangunan RS Indonesia seluruhnya murni berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia yang sebagian besar merupakan kalangan menengah ke bawah, tidak ada dana bantuan asing dan belum ada dana bantuan dari pemerintah Indonesia.

Dikerjakan oleh Relawan :  

RS Indonesia mulai dari ide, proses disain RS yang mencakup struktur, arsitektur dan ME sampai dengan tenaga insinyurdan pekerja teknis yang terlibat dalam proses pembangunan RS Indonesia di Gaza adalah putra-putra bangsa Indonesia yang berstatus sebagai relawan. Mereka memberikan sumbangsihnya tanpa berharap imbalan dan semua dilakukan sebagai bentuk jihad profesionalnya.

Bangunan Terunik dan Terbesar :

Bangunan RS Indonesia adalah bangunan terunik dan terbesar di jalur Gaza yang sebagian besar bangunan di wilayah okupasi Israel ini berbentuk segi empat.

Memecahkan Rekor di Gaza :

RS Indonesia membukukan 2 kali rekor pengecoran terbesar di Gaza, yang pertama adalah pengecoran lantai 2 RS Indonesia sebesar 483 m3. Dua bulan kemudian, pada maret 2012, dilakukan pengecoran lantai 3 sebesar 500 m3 beton yang selesai dalam waktu 8 jam.

 

Apa Kata Mereka Tentang RSI di Gaza

 

 

“Terima kasih rakyat Indonesia atas bantuan Rumah Sakit yang saat ini sedang dibangun. Wahai rakyat Gaza Palestina yang tercinta, jangan pernah bersedih karena di belakang kalian ada rakyat Indonesia.”

Ismail haniyah, PM Palestina

 

 

 

“terima kasih kepada rakyat serta pemerintah Indonesia atas segala bantuan yang  telah diberikan untuk membantu rakyat Gaza. Rumah Sakit Indonesia akan menjadi  Rumah Sakit Utama di Jalur Gaza, and akan menjadi sentra utama dalam memberikan bantuan kepada rakyat Gaza Utara.”

dr. Mufeed Mukhalalat, Menteri  Kesehatan Palestina di Gaza

 

“Lokasi ini (Bayt Lahiyah, Gaza Utara) tepat apabila dibangun sebuah rumah sakit mengingat posisinya yang berdekatan dengan penjajah Israel, saat perang korban terbanyak di daerah Gaza Utara ini. Kami lihat rumah sakit ini cantik berbentuk segi 8, secantik hati rakyat Indonesia yang telah bersungguh-sungguh dalam membantu saudara-saudaranya di Gaza Palestina. Dengan segenap kesungguhan kita bersama, insya Allah akan menjadi washilah dan penyebab tercapainya pembebasan Masjidil Aqsha dan kemerdekaan Palestina.”

dr. Bassim Naim, Mantan Menteri Kesehatan Palestina di Gaza

 

 

 

“Disain Rumah Sakitnya sangat indah. Rumah Sakit terindah di kota Gaza. Disainnya berkolaborasi dengan Kubah Shakra.”

Jamila Shanti, Menteri Urusan Wanita Palestina di Gaza

 

 

 

“Proyek ini (Rumah Sakit) merupakan wujud kerja keras dan kerja sama yang sangat luar biasa. Seperti inilah hasilnya jika kita bekerjasama saling menopang dan melibatkan semua elemen yang ada di Jalur Gaza. RS Indonesia sebagai sebuah amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina akan menjadi salah satu RS terbesar di Jalur Gaza bahkan di seluruh wilayah Palestina. RS Indonesia juga akan menjadi RS utama di wilayah Gaza bagian Utara.”

DR. Naji Sarhan, Wakil Menteri PU Palestina di Gaza  

 

 

Deskripsi RS Indonesia


Tipe RS                 : Trauma Center & Rehabilitation
Lokasi RS              : Bayt Lahiya, Gaza Utara
Status Tanah         : Wakaf dari Pemerintah Palestina
Luas tanah            : 16.261 m2
Kapasitas RS         : 100 tempat tidur

Berdasarkan kebutuhan dan permintaan langsung dari Pemerintah palestina di Gaza pada bulan Juli 2010, maka bangunan RS Indonesia yang semula hanya terdiri dari 2 (dua) lantai, maka sekarang di tambah dengan 1 (satu) lantai basement.  
 

 

Salurkan Dukungan & Bantuan Anda
 

Bank Syariah Mandiri (BSM), cabang Kramat
Acc. No. 700.1352.061
 

Bank Central Asia (BCA), cabang Kwitang
Acc. No. 686.0153678

a.n Medical Emergency Rescue Committee  
 

RS Perintis di Galela, Halmahera Utara - Maluku Utara

Email Print

 

Galela adalah wilayah yang mempunyai sejarah kelam akibat konflik yang terjadi beberapa tahun silam. Hal ini membuat MER-C memilih Galela sebagai salah satu wilayah penyelenggaraan Program Klinik Sosial. Program Klinik Sosial di wilayah ini dimulai sejak Oktober 2006. Program Klinik Sosial yang sudah berjalan lebih dari 4 tahun ini mendapat respon yang positif dari masyarakat setempat.

 

Bahkan, masyarakat setempat telah memberikan sebidang tanah waqaf tepatnya di Desa Towara, Kec. Galela, Kab. Halmahera Utara. Masyarakat sangat berharap MER-C dapat memfasilitasi pembangunan sebuah Rumah Sakit di wilayah mereka.

 

Upaya-upaya kampanye dan penggalangan dana tengah dilakukan oleh MER-C demi mewujudkan harapan masyarakat Galela akan sebuah fasilitas kesehatan. Divisi Konstruksi MER-C yang terdiri dari para relawan insinyur pun sudah sudah merancang disain Bangunan Rumah Sakit yang disesuaikan dengan Rumah Adat Galela.

 

Donasi untuk Pembangunan Rumah Sakit di Galela dapat disalurkan melalui:

BNI, Cabang Kramat

a.n. Medical Emergency Rescue Committee

No. Rek. 0140600983

Rumah Sakit Perintis di Timika - Papua

Email Print

Kiprah MER-C di wilayah Timika melalui Program Klinik Sosial sudah berjalan hampir 5 tahun. Jumlah pasien klinik di wilayah yang rawan dengan isu disintegrasi ini juga terbilang tinggi, rata-rata mencapai lebih dari 1.000 orang setiap bulannya.

 

Seperti masyarakat Galela, masyarakat Timika yang selama ini telah merasakan manfaat dari program Klinik Sosial MER-C, juga memberikan sebidang tanah waqaf. Mereka berharap MER-C dapat memfasilitasi pembangunan sebuah Rumah Sakit yang memang keberadaannya sangat dibutuhkan.

 

Donasi untuk pembangunan Rumah Sakit di Timika Papua dapat disalurkan melalui:

BSM (Bank Syariah Mandiri), Cab. Kramat

a.n. Medical Emergency Rescue Committee

No. Rek. 128.0011.833

Program MER-C for Aceh

Email Print

Sejak awal bencana tsunami hingga kini MER-C masih terus eksis di wilayah Aceh dengan mengoperasionalisasikan sebuah Klinik Rawat Inap. Klinik ini terletak di Kabupaten Aceh Jaya yang merupakan salah satu kabupaten yang mengalami kerusakan parah akibat terjangan tsunami pada akhir 2004.

 

Pembangunan klinik diawali dari adanya sebidang tanah waqaf yang diterima oleh MER-C dari seorang warga Panga yang merasa prihatin dengan kehancuran yang terjadi di wilayahnya. Keberadaan fasilitas kesehatan dirasa sangat penting dan dibutuhkan di wilayah ini. Untuk itu, ide untuk membangun sebuah sarana kesehatan pun disambut baik oleh NGO asal Malaysia (MERCY Malaysia) yang kemudian bersedia untuk membiayai pembangunan fisik klinik.

 

Klinik Rawat Inap Panga diresmikan pada bulan Maret 2006 dan langsung beroperasionalisasi memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekitar. Klinik ini merupakan sarana kesehatan permanen pertama pasca tsunami yang berhasil dibangun dan langsung dapat digunakan.

 

Dengan menggunakan donasi yang masuk ke rekening MER-C for Aceh baik dari pribadi, lembaga maupun perusahaan, MER-C kemudian melengkapi Klinik dengan berbagai alat kesehatan. Dengan donasi tersebut, MER-C juga dapat mengirimkan sejumlah tenaga medis dan non medis secara berkala untuk bertugas di klinik serta membiayai operasionalisasi klinik.

 

Oleh pemerintah setempat, Klinik Rawat Inap yang terletak di Desa Keude Panga kini statusnya sudah ditingkatkan menjadi Puskesmas Rawat Inap.

 

Puskesmas Rawat Inap Panga merupakan Puskesmas yang terlengkap di sekitar wilayah Calang hingga Meulaboh karena selain Poli Umum, puskesmas ini juga dilengkapi dengan alat rontgent, laboratorioum dan poli gigi. Hal ini membuat Puskesmas Rawat Inap Panga menjadi pusat rujukan terutama bagi korban kecelakaan di sekitar wilayah Panga, Calang dan Meulaboh. Apalagi letak Puskesmas juga sangat strategis, yaitu di pinggir jalan utama. Puskesmas juga membuka pelayanan selama 24 jam penuh.

 

Untuk mencapai Puskesmas Rawat Inap Panga diperlukan waktu sedikitnya 6 jam perjalanan darat dari Banda Aceh, bila kondisi tidak hujan. Kalau hujan, waktu yang diperlukan bisa jauh lebih lama dari itu karena kondisi jalan yang masih rusak di sana-sini.

 

Program "MER-C for Aceh" dapat terus berlangsung karena adanya dukungan dan donasi dari masyarakat. Selama masih ada amanah dana dari masyarakat, MER-C pun bertekad untuk tetap eksis di Aceh guna menyalurkan amanah ini kepada yang berhak menerimanya.

 

Donasi untuk Program "MER-C for Aceh" dapat disalurkan melalui:

BSM (Bank Syariah Mandiri), Rek. No. 128.0011.847

a.n. Medical Emergency Rescue Committee