Minggu/14 Agustus 2011, bertempat di Toko Buku Gramedia Matraman, Mizan PPH dan MER-C resmi meluncurkan buku berjudul ”Jalan Jihad Sang Dokter” (JJSD). Buku berjenis memoar setebal 348 halaman ini merupakan sebuah kisah nyata perjalanan dr. Joserizal Jurnalis, SpOT bersama Tim MER-C ke berbagai wilayah perang, konflik dan bencana baik di dalam maupun di luar negeri. Rita T. Budiarti (Penulis) dan Adi Sasono selaku Tokoh Nasional sekaligus sosok yang sangat berperan pada awal pendirian MER-C turut memberikan sambutan dan kesannya pada acara Launching dan Talkshow buku JJSD yang diterbitkan Qanita-Mizan Publika Publishing House. Saat ini buku JJSD sudah bisa didapat di toko buku-toko buku terdekat. Buku juga bisa dipesan melalui MER-C Pusat Jakarta, MER-C Cabang Yogyakarta, MER-C Cabang Solo, MER-C Cabang Semarang, MER-C Cabang Mataram dan segera menyusul MER-C Cabang Medan dan Padang.
Selamat membaca dan dibawa berkelana ke berbagai wilayah perang dan konflik yang diceritakan dalam buku ini. Dengan membeli buku JJSD berarti anda juga sudah ikut menyumbang untuk pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza.
Sinopsis
Penulis : dr. Joserizal Jurnalis & Rita T. Budiarti
Penerbit : Qanita- Mizan Publika Publishing House
Format : 13 x 20 cm
Jumlah halaman : 348
Harga : Rp 58.500,-
Dr. Joserizal Jurnalis mengisahkan perjalanannya bersama Tim MER-C menantang maut, menyelamatkan ribuan nyawa, demi kemanusiaan, melalui buku yang kini tengah beredar. Apa saja pengalamannya?
Bersentuhan dengan ranah perang, konflik, dan bencana selama 12 tahun telah memberikan banyak kisah dan hikmah bagi MER-C dan para relawan yang terlibat di berbagai misi kemanusiaannya. Berawal dari tahun 1999, MER-C mengirimkan relawannya ke Maluku, sebuah wilayah yang saat itu tengah bergejolak akibat konflik SARA. Beranjak dari pengalaman konflik Maluku inilah, organisasi MER-C kemudian lahir dan diresmikan tepatnya pada 14 Agustus 1999 dengan prinsip profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. MER-C selalu berkomitmen untuk membantu sesama manusia tampa memandang perbedaan di antara mereka. Hal ini dibuktikan ketika MER-C mengirimkan relawannya ke Afghanisan, Irak, Iran, Palestina, Lebanon Selatan, Kashmir, Sudan, Filipina Selatan, Thailand Selatan, dan masih banyak lagi. Begitu juga ketika mengawal kesehatan Ust. Abu Bakar Baasyir, Ust. Abu Jibril, almarhumah istri almarhum panglima GAM Ishak Daud, orang-orang yang dipenjara karena tuduhan ”teroris” (almarhum Imam Samudera, Amrozi, Ali Gufron, dan lain-lain) dan narkoba, serta Komjen Pol. Susno Duadji.
Lambangnya mengandung dua unsur, yakni bulan sabit merah sebagai simbol Islam, dan bola dunia yang berarti universal, rahmatan lil ‘alamin yang menjadi prinsip utama MER-C. Badan hukumnya berbentuk lembaga swadaya masyarakat dan berasaskan Islam. Para anggotanya merupakan relawan yang dalam setiap melakukan misi kemanusiaannya tidak dibayar (unpaid volunteers). Dan jika konflik dan bencana begitu identik dengan MER-C, ada satu nama yang saat ini begitu menyatu dengan lembaga ini, yakni Joserizal Jurnalis!
Masa kecilnya Jose habiskan di kompleks IKIP, Padang dan bersekolah di PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) yang jumlahnya sedikit di Indonesia waktu itu. Kejujuran, tampaknya sangat ditekankan betul oleh kedua orangtuanya. Jose tidak dituntut untuk meraih prestasi setinggi mungkin. Namun, Jose dituntut untuk menggapai prestasi dengan cara yang jujur.
Prinsip tersebut dipegangnya secara erat. Oleh karena itu, sewaktu kuliah di Fakultas Kedokteran UI, Jose memilih tidak bergabung dengan salah satu organisasi mahasiswa Islam yang cukup kuat di kampus. Dia tidak setuju dengan ulah sebagian mahasiswa yang menempatkan organisasi tersebut sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan. Selain itu, ada beberapa anggotanya yang tidak konsisten. Mereka bicara tentang perjuangan Islam, tetapi masih nyontek di kelas. (Halaman 64).
Selepas kuliah, kariernya sebagai dokter dimulai di Puskesmas Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tengah, Padang. Sedangkan di Tual, sekitar 540 km kota Ambon, merupakan kawasan konflik yang pertama kali didatangi, tahun 1999. Setibanya di Tual, tepatnya di depan masjid al-Hurriyah, Jose bersama koleganya; Syafik dan Basuki langsung bekerja melakukan operasi minor meski dengan segala keterbatasan. Meja operasinya adalah teras Masjid, tanpa kasur, bahkan alas koran sekalipun. Beberapa kali mereka bekerja di bawah sorotan lampu senter karena aliran listrik sering mati. Pernah, Jose menemukan kasus korban yang tangannya putus terkena bom. Karena tidak ada alat, akhirnya dia menggunakan gergaji kayu untuk operasi tulang. Dia juga terpaksa menggunakan madu sebagai pengganti antibiotik.
Setelah Tual, Jose seperti “ketagihan” berjihad. Bersama koleganya di MER-C, ia terjun ke Aceh dan Yogyakarta. Bahkan, mereka melanglang buana ke berbagai negara yang dilanda konflik. Tercatat, tahun 2001 terjun ke Kandahar, Afganistan, 2002 menjadi relawan dalam perang Irak, 2005 menangani korban gempa di Kashmir, Pakistan. Dan tahun 2009 terjun langsung ke “penjara terbesar” di dunia, Gaza Palestina. Atas sumbangan masyarakat Indonesia tim MER-C tengah membangun sebuah rumah sakit. Jika kelak berdiri, RS Indonesia itu akan menjadi RS pertama di Gaza Utara. (Halaman 302).
Kontribusi dan dukungan dari berbagai elemen bangsa sangat diharapkan untuk mempercepat pembangunan RS INDONESIA. Rumah sakit yang membutuhkan biaya sekitar 30 miliar itu akan menjadi kebanggaan bersama bangsa Indonesia. Di samping itu, diharapkan hal ini bisa mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia internasional, khususnya di wilayah Timur Tengah. Pendanaan rumah sakit ini digalang MER-C dengan gerakan donasi rakyat Rp 20 ribu/orang untuk pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Hingga 2 bulan ini, donasi yang terkumpul dari gerakan Rp20 ribu/orang sudah mencapai 1 Miliar.
Lalu, apa yang membuat seorang Joserizal Jurnalis seakan tak kenal lelah berjihad? Menurut Jose kuncinya, lakukan sesuatu dengan ikhlas, dan selalu berusaha lebih keras untuk ikhlas, maka Allah akan mempermudahnya dengan mempertemukan orang-orang yang memiliki gelombang yang sama. Sebaliknya, jika dilandasi maksud buruk atau tidak tulus, sekalipun sudah duduk dan bicara panjang lebar, tetap saja seperti ada hijab yang menghalanginya. Namun, ikhlas merupakan kondisi yang harus diusahakan karena dia bisa juga menghilang.
Membaca buku berjudul Jalan Jihad Sang Dokter yang diterbitkan Qanita-Mizan Publika Publishing House, akan membawa pembaca mengikuti seluk-beluk perjuangan seorang aktivis kemanusiaan. Pengalamannya mempertaruhkan nyawa dengan menandatangani “kontrak kematian” saat memutuskan memasuki kawasan konflik seperti Gaza, akan mampu menginspirasi dan mengobarkan semangat kemanusiaan pembaca. Royalti yang didapat dari penjualan buku terbaru MER-C yang berjudul "Jalan Jihad Sang Dokter" ini pun akan disalurkan untuk membantu pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Semoga buku ini berguna dan bermanfaat bagi yang membacanya dan semoga bisa menambah semangat kita semua untuk senantiasa berbagi dan berbuat baik bagi sesama.
Untuk informasi lebih lanjut :
Mizan Publika Publishing House
Telp. (021) 788 80569/ 788 805 56
Fax. (021) 788 80563
Email. This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. / This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
atau
MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)
HP. 0811 99 0176
Telp. (021) 3159235
Fax. (021) 3159256
Email. This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.


