MER-C

 
 
Home News Event Berbagi Kisah Relawan Gaza di BEM CAMP FK UI 2012
 
 

Berbagi Kisah Relawan Gaza di BEM CAMP FK UI 2012

Email Print

Depok – Sabtu (9/6), perwakilan MER-C memenuhi undangan dari BEM FK UI (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) untuk menjadi salah satu pembicara pada rangkaian acara BEM CAMP 2012. Acara yang diadakan di Aula Perpustakaan UI lantai 6 ini bertujuan untuk mengembangkan potensi, soft skill, keorganisasian serta kekompakan para pengurus BEM FK UI.

Kali ini MER-C menugaskan Ir. Edy Wahyudi, salah satu relawan Divisi Konstruksi MER-C yang baru saja kembali dari Gaza Palestina usai bertugas mengawasi proses pembangunan struktur RS Indonesia (RSI) di wilayah terblokade tersebut. Tema yang disampaikankaliini seputar kerelawanan dan kondisi Palestina. Dengan sharing pengalaman ini, diharapkan para calon dokter menjadi lebih peka dan peduli terhadap sesama.

Sebelum menceritakan pengalamannya selama 1,5 tahun bertugas di Gaza, terlebih dahulu sang moderator, Varisa Pandria, mengajak peserta untuk menyaksikan video pembangunan RSI Gaza. Selain bisa melihat bagaimana lika-liku dan proses pembangunan RSI, para peserta juga dapat melihat seperti apa kegiatan Ir. Edy Wahyudi selama mengawasi pembangunan RSI. Takjub dan terharu, begitulah kesan peserta selama menyaksikan tayangan video tersebut

 

Berawal dari “Asia to Gaza Solidarity Caravan”

Usai pemutaran video, Ir. Edy mulai memparkan kisahnya sebagai relawan. Berawal ketika tengah bertugas menjadi relawan di bencana merapi dan tiba-tiba dikontak oleh Pimpinannya untuk mengikuti program “Asia to Gaza Solidarity Caravan”. “Asia to Gaza Solidarity Caravan” adalah  konvoi darat yang dilakukan para aktifis dan relawan dari berbagai negara sebagai bentuk solidaritas terhadap Jalur Gaza yang tengah mengalami blokade ilegal oleh zionis Israel. Konvoi melewati sejumlah negara seperti Iran, Turki, Suriah, Libanon dan Mesir hingga akhirnya masuk ke Jalur Gaza.

Kegiatan-kegiatan menentang zionis Israel memang harus selalu siap dengan berbagai kendala dan hambatan. Hal ini juga dialami oleh Ir. Edy dan tim yang berjumlah 5 orang serta seluruh peserta konvoi. Ketika sampai di Mesir, para peserta sempat mengalami hambatan untuk masuk ke Gaza.

“Tapi dengan keyakinan yang kuat bahwa ALLAH pasti akan memberikan pertolongan bagi hamba-hambanya yang bersungguh-sungguh, Alhamdulillah pada awal Januari 2011 kami bisa masuk dan menginjakkan kaki di Gaza,” ungkapnya.

 

Ke Gaza untuk Pembangunan RS Indonesia

Sebagai seorang insinyur, tujuan Ir. Edy dan tim mengikuti “Asia to Gaza Solidarity Caravan”. adalah sebagai salah satu ikhtiar untuk memasuki wilayah Gaza yang cukup sulit ditembus guna membantu mengawasi proses pembangunan RS Indonesia di sana. Kedatangan Ir. Edy dan Tim ke tanah Gaza disambut suka cita oleh dua relawan Indonesia yang sudah lebih dulu (Juli 2010) tiba dan bertugas di Gaza, yaitu Ir. Nur ikhwan Abadi dan Abdillah Onim. Sementara peserta konvoi lainnya hanya diberi izin beberapa hari di Gaza, Ir. Edy dan tim memutuskan untuk menetap dan bertugas jangka panjang di Gaza.

 

Bom dan Pasokan Listrik yang Terbatas Warnai Kehidupan Sehari-hari di Gaza

 

“Pembangunan RS Indonesia di Palestina merupakan hal yang tepat untuk dilakukan,” kata Ir. Edy. Pernyataan ini diungkapkannya setelah mengalami dan merasakan sendiri bagaimana hidup di tanah terblokade seperti Jalur Gaza.

“Israel hingga saat ini setiap harinya melakukan pengeboman terhadap warga Palestina. Kondisi RS disana pun juga sungguh memprihatinkan karena masih minimnya jumlah paramedis, obat-obatan, peralatan medis dan jumlah kamar perawatan. Hal ini membuat banyak pasien yang tidak tertangani dengan baik,” paparnya. “Jumlah obat-obatan yang kurang juga mempengaruhi pemberian vitamin terhadap bayi dan ibu hamil. Vitamin hanya diberikan kepada ibu dan anak-anak yang kondisinya sangat darurat. Selain vitamin, pasokan obat bius pun sering kosong,” tambah relawan beranak 4 ini.

Lebih lanjut menurtnya, akibat stok obat bius yang sering kosong, sehingga pasien harus dioperasi tanpa dibius terlebih dahulu. Untuk mengurangi rasa sakit, maka biasanya pasien menyibukkan diri dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran yang mereka hapal. Kehebatan dari warga Palestina adalah sebanyak 80 ribu warganya sudah hafidz Quran. 

Pasokan listrik pun juga merupakan masalah utama di Jalur Gaza. Listrik hanya menyala selama 4 jam dalam sehari. “Jika kami ingin melakukan komunikasi dengan MER-C Pusat, maka kami harus menunggu listrik menyala,” ujar Ir. Edy.

Pasokan listrik yang kurang juga berpengaruh terhadap jadwal operasi dan jadwal cuci darah pasien yang harus dibatasi sehingga menyebabkan kematian pasien yang sangat bergantung pada alat-alat medis yang membutuhkan daya listrik.

Selain masalah keterbatasan pasokan listrik dan obat-obatan, Ir. Edy juga memaparkan masalah-masalah medis lainnya yang terjadi di Gaza. Misalnya, warga Gaza banyak yang terjangkit penyakit ginjal dan kanker. Salah satu peyebabnya adalah akibat bom fosfor. Israel terbukti menggunakan bom jenis ini yang efeknya tidak hanya dirasakan pada saat ledakan saja tapi juga berakibat jangka panjang bagi para korbannya. Seperti pada tahun 2011 lalu, Ir. Edy menceritakan pengalamannya mengunjungi warga Gaza yang terkena bom fosfor. “Korban bom fosfor akan menderita cacat seumur hidup. Si korban tidak boleh terkena cahaya sehingga dia tidak bisa keluar siang hari. Jika korban terkena cahaya maka luka yang sudah kering akan meleleh kembali,” jelasnya.

Setelah memberikan presentasi dan membagi pengalamannya sebagai relawan di Gaza, tibalah sesi tanya jawab. Salah satu peserta yang penasaran ingin tahu bagaimana keluarga bisa mengizinkan Ir. Edy pergi bertugas ke Palestina yang notabene adalah wilayah perang segera memanfaatkan sesi ini. “Bekal apa yang diberikan kepada keluarga sehingga keluarga bisa melepas Pak Edy ke Palestina mengingat bahwa Palestina adalah wilayah peperangan?” tanyanya. Dengan senyum dan penuh keyakinan Ir. Edy menjawab, “Sebelum berangkat saya sampaikan kepada istri dan keluarga bahwa kematian itu sudah ditetapkan oleh ALLAH SWT. Kematian kita semua tidak akan maju ataupun mundur meski hanya sedetikpun. Keberanian saya ke Gaza bukan berarti saya mempercepat kematian saya. Seandainya saya berada di tempat lain pun, jika ALLAH sudah menentukan umur saya, maka saya pun pasti akan mati.”

Acara yang berjalan selama kurang lebih 1 jam tersebut kemudian ditutup dengan pemutaran video profil MER-C. Semoga acara ini bisa membuka wawasan dan menambah semangat para peserta calon dokter untuk berbuat sesuatu bagi kemanusiaan dan sesama yang membutuhkan.

 
 
 
 

JALAN JIHAD SANG DOKTER". Kisah perjalanan dr. Joserizal & Tim MER-C ke berbagai wilayah perang, konflik dan bencana baik di dalam maupun di luar negeri hingga lika-liku Pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza.
Dapatkan di Toko Buku atau MER-C
Rp. 58.500,-